 | Friends.. WELCOME...! | Aug 10, 2004 |
FRIENDS, WELCOME TO My HOMEPAGE...! ^^
C S
M
“Kala kita bodoh, kita ingin
menguasai pasar dan seluruh dunia. Kala kita bijak, kita ingin menguasai diri
sendiri.” Kalimat di atas harusnya ada di halaman depan buku-buku pengantar
pemasaran yang menjadi acuan para pemasar sejati. Mengapa demikian? Mengapa
penting? Sederhana saja, setelah itu biasanya buku-buku tersebut langsung
mengajarkan bagaimana caranya menaklukkan pasar (baca: orang lain). Kita lupa
bahwa inti dari pemasaran sebenarnya adalah menaklukkan diri sendiri, berdamai
dengan batin, untuk menciptakan kesejahteraan. Banyak orang lupa bahwa musuh
mereka sebenarnya tidak ada di mana-mana, melainkan ada di dalam bisnis mereka
sendiri.
Menaklukkan diri sendiri berarti mengakui kekurangan-kekurangan dan
memperbaikinya. Sebab adakalanya kita bukan melulu problem solver
(pemecah masalah) melainkan juga problem maker (pembuat masalah). Di satu
sisi kita ingin memecahkan masalah konsumen, tetapi di lain sisi kita telah
menimbulkan kesulitan-kesulitan. Tentu saja kita dapat memisahkan lagi antara
kedua tipe orang ini: Mereka yang memiliki masalah besar (those who have big
problems) dengan mereka yang membuat sebuah masalah menjadi besar (those
who make a problem big).
Untuk menaklukkan diri sendiri, korporasi punya suatu alat yang sekarang
mulai populer. Namanya CSR (Corporate Social Responsibility). Apakah
dipaksa oleh hukum atau tidak, perusahaan menaklukkan dirinya sendiri untuk
berbuat baik kepada siapa saja. Dalam kaca mata pemasaran, sekarang mulai
diperkenalkan CSM (Corporate Social Marketing), yaitu suatu pendekatan
untuk memperbaiki kerusakan-kerusakan yang diakibatkan oleh kehadiran kita
sendiri. Produsen air minum mineral misalnya, telah menjadi problem
solver dengan menyediakan minuman sehat yang bersih dan nyaman untuk dibawa
kemana-mana. Aqua, Ades, dan lain-lainnya telah membantu menyehatkan kita,
tetapi sekaligus membuat lingkungan hidup kita kotor. Lihatlah di mana-mana,
sampah botol plastik bekas kemasan itu bertaburan di mana-mana. Di tanah, di
laut atau di sungai, dengan mudah kita menemukannya. Bahkan di area terumbu
karang Bunaken, botol-botol bekas itu telah menjadi perusak pemandangan yang
luar biasa. Apakah para produsen air minum dalam kemasan (AMDK) tidak terpanggil
untuk menaklukkan dirinya sendiri?
Adakalanya produsen memang harus dipaksa oleh hukum untuk melakukan
introspeksi. Kalau sudah begitu, pelaku usaha bisa menjadi tampak bodoh dan
aneh. Lihatlah bagaimana produsen-produsen rokok memasarkan kenikmatan rokok
buatannya, tetapi sekaligus mengatakan bahwa “sebenarnya” merokok dapat
mengakibatkan gangguan kesehatan yang fatal, seperti impotensi dan penyakit
jantung. Hanya saja karena hal itu “dipaksa” dan berlaku secara menyeluruh, maka
lama-lama terlihat biasa saja. Nah, berbeda dengan cara-cara yang
non-voluntary ini, CSM justru dilakukan dengan penuh kesadaran, sukarela
dan dapat memperkuat brand positioning.
Subway, tentu saja bukan nama jaringan kereta api bawah tanah,
melainkan nama merek makanan (roti) siap saji. Siapa pun tahu, yang membuat
makanan siap saji enak adalah lemak-lemaknya tebal dan berbahaya bagi kesehatan,
tetapi Subway sejak beberapa waktu belakangan ini mengikrarkan diri bahwa
sandwich buatannya mengandung lemak kurang dari enam gram saja. Memang
rasanya menjadi kurang nikmat, tetapi lewat kampanye CSM, Subway
mendeklarasikan program “Start With Your Hearth” (mulailah dengan jantung
Anda). Kampanye ini terkesan soft, karena hearth bermakna
kesehatan fisik, sekaligus emosi. Subway lalu menggandeng Asosiasi
Jantung Amerika dan menyelenggarakan “Amerika Hearth Walk” sejauh 5 Km di
lebih dari 750 kota. Program CSM intinya adalah menaklukkan diri sendiri untuk
menghasilkan perubahan sosial. Perubahan sosial apa yang dicanangkan
Subway? Mudah saja: makan makanan yang sehat (bukan sekadar nikmat) dan
berupaya agar secara fisik aktif.
Perubahan sosial, tentu merupakan impact yang dijadikan sasaran dalam
CSM. Pampers, misalnya, belum lama ini menuliskan pesan-pesan khusus pada
produk-produk buatannya untuk mengedukasi ibu-ibu muda dalam rangka mencegah
terjadinya kematian tiba-tiba bagi balita. Sindrom ini dikenal dengan sebutan
SIDS (Sudden Infant Death Syndrome). Jaringan retail 7-Eleven,
melakukan kampanye pencegahan buang sampah sembarang lewat slogan “Don’t Mess
With Texas”. Singkatnya 7-Eleven menemukan, konsumernya rata-rata
adalah orang-orang sibuk yang perlu dilayani cepat. Saking cepatnya, mereka tak
sempat memasak untuk diri sendiri, atau bahkan duduk sebentar saja di restoran.
Mereka hanya sempat menyantap makanan-makanan dalam kemasan yang ada di toko
convenient ini. Istilahnya dikenal dengan “dashboard dinner”,
yaitu makan malam sambil menyetir mobil. Mereka ini, ternyata adalah orang-orang
yang super sibuk, disorganized, dan sering mengabaikan pentingnya
membuang sampah pada tempatnya.
7-Eleven melakukan program CSM untuk merubah perilaku sosial yang
negatif ini. Salah satu kampanye kreatifnya tampak pada stiker yang dipajang di
mobil-mobil. Bunyinya: “Dine on the Dash but Stash your trash” (makanlah
di dekat dashboard, tetapi buanglah sampah pada tempatnya).
Kampanye CSM tentu saja gampang-gampang sulit. Persoalan terbesar justru
meyakinkan orang-orang di dalam perusahaan, khususnya para CEO, pemilik dan
tokoh-tokoh penting perusahaan tentang pentingnya CSM itu sendiri. Mereka sering
beranggapan, pasar adalah anugerah. Ada karena mereka butuh, dan perubahan
sosial bukanlah urusan kita, melainkan urusan negara dan LSM. Di jaman sekarang
ini paradigma pemasaran dan berusaha justru terbalik 180 derajat. Perubahan
sosial justru menjadi tanggung jawab bersama, dan peran terbesar justru ada di
tangan mereka yang pertama-pertama menciptakan masalah sekaligus menikmatinya,
yaitu korporasi (perusahaan).

Hadiah Terbaik Untuk Diri Sendiri
Setiap orang
pernah mengalami masa-masa sulit dalam kehidupan. Ada masa sulit dalam berumah
tangga, kehidupan karir, kesehatan, atau kehidupan pribadi yang diguncang badai.
Kebanyakan juga setuju kalau masa-masa sulit ini bukanlah keadaan yang
diinginkan. Sebagian orang bahkan berdoa, agar sejarang mungkin digoda oleh
keadaan-keadaan sulit. Sebagian lagi yang dihinggapi oleh kemewahan hidup ala
anak-anak kecil, mau membuang jauh-jauh, atau lari sekencang-kencangnya dari
godaan hidup sulit.
Akan tetapi, sekencang apapun kita menjauh dari
kesulitan, ia tetap akanmenyentuh badan dan jiwa ini di waktu-waktu ketika ia
harus datang berkunjung. Rumus besi kehidupan seperti ini, memang berlaku pada
semua manusia, bahkan juga berlaku untuk seorang raja dan p! enguasa yang paling
berkuasa sekalipun.
Sadar akan hal inilah, saya sering mendidik diri
untuk ikhlas ketika
kesulitan datang berkunjung. Syukur-syukur bisa tersenyum
memeluk kesulitan. Tidak dibuat sakit dan frustrasi saja saya sudah sangat
bersyukur. Pelukan-pelukan kebijakan seperti inilah yang datang ketika sang
hidup sempat membanting saya dari sebuah ketinggian. Sakit memang, tapi karena
ia sudah saatnya datang berkunjung, dan kita tidak punya pilihan lain terkecuali
membukakan pintu rumah kehidupan, maka seterpaksa apapun hanya keikhlasanlah
satu-satunya modal berguna dalam hal ini.
Senyum penerimaan terhadap
kesulitan memang terasa kecut di bibir. Dan sebagaimana logam yang sedang dibuat
menjadi patung indah, kesulitan memang terasa seperti semprotan panasnya api
mesin las, dihajar oleh palu besar, kencangnya cubitan tang, menyakitkannya
goresan-goresan amplas kasar, atau malah tidak enaknya bau cat yang menyelimuti
selu! ruh badan patung logam. Semua tahu, kalau badan dan jiwa ini kemudian akan
menjadi 'patung logam' yang lebih indah dari sebelumnya. Tetapi tetap saja ada
sisa-sisa ketakutan - dan bahkan mungkin trauma - yang membuat kita manusia
menghindar dari kesulitan.
Cuma selebar apapun goresan luka yang dibuat
oleh kesulitan, ada mahluk yang amat berguna dan amat dibutuhkan dalam
pengalaman-pengalaman menyakitkan ini, ia bernama sahabat. Tidak semua sahabat
fasih memberikan nasehat. Tetapi dengan kesediaannya untuk mendengar, sinaran
mata yang berisi empati, kesediaan untuk menjaga rahasia, sahabat menjadi
permata berlian yang amat berguna dalam keadaan-keadaan ini.
Di rumah
saya memiliki seorang sahabat yang amat mengagumkan. Dari segi pendidikan formal
ia hanya tamatan SMU. Bahkan SMU tempat ia bersekolah dulu sudah bubar, sebagai
tanda ia bukanlah berasal dari sekolah yang terlalu membanggakan. Namun nasehat
serta keteladanan hidupnya kadang mengagumkan.
Di kantor saya memiliki
sejumlah bawahan yang datang sama manisnya baik ketika dipuji maupun setelah di!
maki. Seorang tetangga menelpon, mengirim SMS dan bahkan menyempatkan diri
berkunjung ke rumah. Tidak untuk memberikan ceramah, hanya untuk mendengar.
Seorang sahabat dekat yang memimpin sebuah raksasa teknologi informasi bahkan
mengatakan bangga menjadi sahabat saya. Ketika tulisan ini dibuat, seorang
sahabat lama yang tinggal di Surabaya menelepon, tanpa bermaksud menggurui ia
mengutip kata-kata indah Confucius :
'Manusia salah itu biasa, tetapi
menarik pelajaran dari kesalahan itu baru luar biasa'.
Apa yang mau saya
tuturkan dengan semua ini, rupanya sahabat adalah hadiah paling berharga yang
bisa kita berikan pada diri kita sendiri. Secara lebih khusus ketika kita
ditimpa kesulitan yang menggunung. Sehingga patut direnungkan, kalau kita
perlu menabung perhatian, empati, cinta buat para sahabat. Tidak untuk
berdagang dengan kehidupan. Dalam arti, memberi dengan harapan agar diberi
kelak. Melainkan, sebagaimana cerita dan pengalaman di atas, dalam dunia
persahabatan, dalam memberi kita sebenarnya sudah diberi. Bahkan, setiap sahabat
yang memberi perhatian dan empati pada sahabat lainnya, ketika itu juga
mengalami the joy of giving. Ketika itu juga seperti ada beban di bahu yang
berkurang jauh beratnya.
Ada memang orang yang memiliki banyak sekali
teman. Kemana-mana namanya dipanggil orang. Cuman, sedikit diantara semua
teman yang banyak ini kemudian bisa menjadi sahabat. Bercermin dari kenyataan
inilah, maka saya lebih memusatkan diri untuk mencari dan membina sahabat.
Jumlahnya memang tidak akan pernah banyak. Bahkan ia lebih sedikit dari jumlah
jari tangan. Cuma sesedikit apapun jumlahnya, sahabat tetap sejenis hadiah
terbaik yang bisa kita bisa berikan buat diri sendiri.
Mobil mewah
memang bisa membawa kita ke tempat jauh lengkap dengan gengsinya. Rumah mewah
memang bisa meningkatkan kenyamanan tinggal sekaligus meningkatkan kelas. Ijazah
lengkap dengan gelarnya yang mentereng juga bisa meningkatkan percaya diri. Akan
tetapi, baik mobil mewah, rumah mewah maupun ijazah tidak bisa menghadirkan
empati yang menyentuh hati
Di sebuah Sabtu pagi, seorang sahabat yang
membaca harian Kompas yang memberitakan bahwa saya mengundurkan diri dari
jabatan presiden direktur di sebuah kelompok usaha amat besar di negeri
ini, langsung menelepon saya dari tempat yang jauh. Ia berucap sederhana :
'saya bangga jadi teman Anda'. Inilah hadiah terbaik yang bisa dihadiahkan ke
diri sendiri. Ia tidak dibungkus kado, ia juga tidak hanya datang ketika hari
raya atau ulang tahun. Ia justru lebih sering datang ketika kita amat
membutuhkannya.


Sepatu Si Bapak Tua
Seorang
bapak tua pada suatu hari hendak bepergian naik bus kota. Saat
menginjakkan kakinya ke tangga, salah satu sepatunya terlepas dan jatuh
ke jalan. Sayang, pintu tertutup dan bus segera berlari cepat. Bus ini
hanya akan berhenti di halte berikutnya yang jaraknya cukup jauh
sehingga ia tak dapat memungut sepatu yang terlepas tadi. Melihat
kenyataan itu, si bapak tua itu dengan tenang melepas sepatunya yang
sebelah dan melemparkannya ke luar jendela.
Seorang
pemuda yang duduk dalam bus tercengang, dan bertanya pada si bapak tua,
''Mengapa bapak melemparkan sepatu bapak yang sebelah juga?'' Bapak tua
itu menjawab dengan tenang, ''Supaya siapa pun yang menemukan sepatuku
bisa memanfaatkannya.''
Bapak tua dalam cerita di
atas adalah contoh orang yang bebas dan merdeka. Ia telah berhasil
melepaskan keterikatannya pada benda. Ia berbeda dengan kebanyakan
orang yang mempertahankan sesuatu semata-mata karena ingin memilikinya,
atau karena tidak ingin orang lain memilikinya.
Sikap mempertahankan
sesuatu -- termasuk mempertahankan apa yang sudah tak bermanfaat lagi
-- adalah akar dari ketamakan. Penyebab tamak adalah kecintaan yang
berlebihan pada harta benda. Kecintaan ini melahirkan keterikatan.
Kalau Anda sudah terikat dengan sesuatu, Anda akan mengidentifikasikan
diri Anda dengan sesuatu itu. Anda bahkan dapat menyamakan kebahagiaan
Anda dengan memiliki benda tersebut. Kalau demikian, Anda pasti sulit
memberikan apapun yang Anda miliki karena hal itu bisa berarti
kehilangan sebagian kebahagiaan Anda.
Kalau kita pikirkan lebih
dalam lagi ketamakan sebenarnya berasal dari pikiran dan paradigma kita
yang salah terhadap harta benda. Kita sering menganggap harta kita
sebagai milik kita. Pikiran ini salah. Harta kita bukanlah milik kita.
Ia hanyalah titipan dan amanah yang suatu ketika harus
dipertanggungjawabkan. Pertanggungjawaban kita adalah sejauh mana kita
bisa menjaga dan memanfaatkannya.
Peran kita dalam hidup ini
hanyalah menjadi media dan perantara. Semuanya adalah milik Tuhan dan
suatu ketika akan kembali kepadaNya. Tuhan telah menitipkan banyak hal
kepada kita: harta benda, kekayaan, pasangan hidup, anak-anak, dan
sebagainya. Tugas kita adalah menjaga amanah ini dengan baik, termasuk
meneruskan pada siapa saja yang membutuhkannya.
Paradigma yang terakhir ini
akan membuat kita menyikapi masalah secara berbeda. Kalau biasanya Anda
merasa terganggu begitu ada orang yang membutuhkan bantuan, sekarang
Anda justru merasa bersyukur. Kenapa? Karena Anda melihat hal itu
sebagai kesempatan untuk menjadi ''perpanjangan tangan'' Tuhan. Anda
tak merasa terganggu karena tahu bahwa tugas Anda hanyalah meneruskan
''titipan'' Tuhan untuk membantu orang yang sedang kesulitan.
Cara berpikir seperti ini
akan melahirkan hidup yang berkelimpahruahan dan penuh anugerah bagi
kita dan lingkungan sekitar. Hidup seperti ini adalah hidup yang
senantiasa bertambah dan tak pernah berkurang. Semua orang akan merasa
menang, tak ada yang akan kalah. Alam semesta sebenarnya bekerja dengan
konsep ini, semua unsur-unsurnya bersinergi, menghasilkan kemenangan
bagi semua pihak.
Tapi, bukankah dalam proses
memberi dan menerima ada pihak yang akan bertambah sementara pihak yang
lain menjadi berkurang? Kalau Anda berpendapat demikian berarti Anda
sudah teracuni konsep Zero Sum Game yang mengatakan kalau ada yang
bertambah pasti ada yang berkurang, kalau ada yang untung pasti ada
yang rugi, kalau ada yang menang pasti ada yang kalah. Padahal esensi
hidup yang sebenarnya adalah menang-menang. Kalau kita memberi kepada
orang lain, milik kita sendiri pun akan bertambah.
Bagaimana menjelaskan
fenomena ini? Ambilah contoh kasus bapak tua tadi. Kalau ia tetap
menahan sepatunya maka tak ada pihak yang dapat memanfaatkan sepatu
tersebut. Kondisi ini adalah kalah-kalah (loose-loose). Sebaliknya
dengan melemparkannya, sepatu ini akan bermanfaat bagi orang lain. Lalu
apakah si bapak tua benar-benar kehilangan? Tidak. Ia memperoleh
kenikmatan batin karena dapat memberikan manfaat bagi orang lain.
Betul, secara fisik ia kehilangan tetapi ia mendapatkan gantinya secara
spiritual.
Perasaan inilah yang selalu
akan Anda dapatkan ketika Anda membantu orang lain: menolong teman yang
kesulitan, memberikan uang pada pengemis di jalan, dan sebagainya. Kita
kehilangan secara fisik tapi kita mendapatkan ganti yang jauh lebih
besar secara spiritual.
=======================================================
Sebagai penutup, ijinkanlah saya menuliskan seuntai puisi dari seorang bijak:
''Engkau tidak pernah memiliki sesuatu
Engkau hanya memegangnya sebentar
Kalau engkau tak dapat melepaskannya, engkau akan terbelenggu olehnya.
Apa saja hartamu, harta itu harus kau pegang dengan tanganmu seperti engkau menggenggam air.
Genggamlah erat-erat dan harta itu lepas. Akulah itu sebagai milikmu dan engkau mencemarkannya.
Lepaskanlah, dan semua itu menjadi milikmu selama-lamanya''. 

 | TV ? | Jun 15, '05 11:06 PM for everyone |
|
Your Element Is Earth |
You excel at planning and strategizing.
You could be a champ at chess or Survivor.
Well grounded, you are able to be realistic and rationalize.
On the inside, you have a hard core. It's tough to phase you.
You are super productive, and you are able to think anything through.
Focused and super charged, your instincts are a good guide for your next step.
|
|  | Wow.... it's really creative ! |
 | Naked | Oct 9, '04 3:03 AM for everyone |
| |